Gue adalah tipe orang yang seneng pergi ke rumah hantu, tapi setibanya di dalam bakal takut liat kiri kanan dan nggak bisa santai menikmati ‘pemandangan’. Gue tau mereka setan boongan, tapi logika itu cuma sampe di beberapa langkah pertama. Selebihnya gue takut kalo ada yang megang-megang, dan teriak-teriak kalo ada yang gerak sedikit.
Hidup gue tidak dipenuhi dunia mistis. Walaupun di keluarga besar gue banyak yang bisa ‘ngeliat’, gue nggak dikasih bakat ini sama sekali. Waktu baru pindah ke Bandung, gue tinggal di rumah nenek buyut gue yang bergaya belanda dan banyak penampakan. Banyak cerita yang dialami sama keluarga besar gue, guenya sendiri biasa aja. Tapi kalo browsing sampe tengah malem suka ngeliat ke belakang sih takut ada yang ngeliatin. Gue sangat seneng gue nggak berbakat, cuma kadang-kadang gue agak menyayangkan hal ini.
Kenapa? Nggak tau sih, mungkin sifat penasaran manusia aja. Contohnya, waktu gue pergi ke rumah nenek moyang gue, Mangunarsan (Mangunarso, an di sini sebutan buat keluarga, cem klan gitu) di Bonsari Jawa Timur. Rumahnya Jawaaa banget, keren gitu kuno. Pas kita di sana, sepupu gue yang bisa ngeliat bilang kalo penghuninya baik-baik. Om gue bahkan tiba-tiba naik ke satu tempat tidur gelap berkelambu dan ‘ngobrol’. Hmm.. coba kalo gue bisa liat. Kan asik aja gitu ngeliat ‘penampakan’ nenek moyang gue dan siapa tau dibagi cerita. HAHA oke mulai ngayal.
Mungkin gue kebanyakan baca tulisan Sarasvati kali ye.
Hari-hari pertama memakai seragam putih-biru, rasanya bangga sekali. Bangga ketika seragam itu dipakai di luar sekolah. Zaman itu masih sangat keren rasanya untuk pergi ke BIP, berseragam dan memakai sandal hotel haha! Mengapa? Aku bersekolah di SMP Negeri yang terkenal akan kepintaran anak-anaknya. Senang rasanya ketika orang-orang melihat seragamku, dan aku tahu, yang ada di pikiran mereka adalah “Wah anak pintar”.
Apabila aku bertemu dengan sekumpulan anak yang berseragam berbeda, aku cenderung memberi mereka pandangan “Aku tidak pernah dengar nama sekolahmu”. Anak-anak yang aku anggap setara hanya mereka yang sekolahnya persis di sebelah sekolahku.
Rasa bangga ini meningkat lagi saat aku SMA. Siapa yang tidak kenal sekolahku? Sekolahku ini diyakini berisikan anak-anak terpintar Se-Bandung, ah, Se-Jawa Barat. Lulusannya hanya seperti pindah sekolah ke salah satu institut teknik ternama Indonesia, selalu banyak yang diterima.
Aku pikir, kami adalah siswa-siswi SMA paling dewasa yang ada di sekitar. Kami tahu kami pintar, tapi lebih dari itu, kami punya kesadaran untuk memperbaiki diri, bertujuan, dan idealisme yang tinggi. Kami tidak seperti kalian yang hanya mementingkan kehidupan percintaan.
Senang sekali rasanya memakai atribut sekolah, atau barang lainnya yang mengidentifikasikan bahwa aku bersekolah di sana. Coba lihat aku, aku anak pintar bermasa depan cerah!
Lalu, sekarang aku di sini.
Aku menyadari, aku tidak sebangga dulu untuk memakai atribut kampusku. Rasanya biasa saja, bahkan cenderung malu.
Tidak, tidak, jurusan yang aku pilih dikagumi dan banyak diminati. Ya, kampusku cukup terkenal setanah air.
Rasa itu meluntur, karena sekarang aku bukan berada di ‘si nomor satu’.
Memang, itu adalah alasan paling kekanak-kanakan yang pernah ada. Tidak ada lagi yang akan mengatakan, “wah hebat sekali kamu, pasti pintar”.
Pengakuan. Itu adalah hal mendasar yang kubutuhkan. Dan aku mengakui ini.
Aku bangga dengan bertambah dewasa.
Mungkin begitu.

Hai, gua Windura. Windura Ararya. Gua nggak bakal ngomong di sini lama-lama, karena segala hal tentang gua bakal dijelasin sama kreator gua, Adl. Gua udah bilang kalo gua nggak mau. Tapi mau gimana lagi, gua nggak punya andil. Ya semoga dia nggak cerita yang aneh-aneh. Oke, thanks.
.
Hello! Have you met mine?
Sudah?
Oke.
Seperti yang sudah dia bilang tadi, namanya Windura Ararya, artinya perhiasan bangsawan. Sebenarnya gue nggak sreg sama artinya, tapi gue udah suka banget sama nama Ararya buat tambahan Windura yang gue ambil dari kakak kelas gue di smp.
Gue nggak tau umur Windura, karena nggak gue tentuin. Yang gue tau, dia sekarang lagi menjalani masa ngajar mengajar sebagai TA sistem di sebuah jurusan di sebuah universitas. Silahkan hitung sendiri kira-kira umurnya berapa dan imajinasikan sendiri dia kuliah di jurusan apa universitas mana, karena memang belom gue tentuin bahahah.
Secara fisik, Windura ini agak kurus dan kayak Arjuna di bagian ‘rupawan layaknya wanita’, karena mukanya emang yah bisa dibilang cantik. Badannya bisa dibilang agak androgyny juga, setipe Andrej Pejic. Oke, Andrej emang jadi salah satu inspirasi gue buat Windura hehehe. Gerakannya halus dan agak gemulai. Ditambah lagi, rambutnya yang panjang dan selalu wangi gara-gara rajin keramas (HAHAHA) bikin dia makin keliatan kayak cewek.
Windura bukan tipe orang yang pedulian. Dia orangnya super cuek dan cenderung kalem. Dia bisa dengan tenangnya ngelanggar aturan ngajar, cuma pake kaos sama celana pendek. Selama nggak ada dosen, katanya.
Biar kata cuek, tapi Windura seneng looking good. Makanya kebanyakan baju yang dia pake stylish semua (dengan syarat: nyamaan).Tapi karena nggak suka belanja, kakaknya yang banyak beliin baju buat dia. Liat ada tulisan kecil di atas pundak kirinya dia? Dia begaya begitu ke kampus. Ehm ya, di sini dia pake kuteks hitam (Inspired by Jhonny from Vanity Fair yang ganteng dan emo hahah). That is totally not his hobby, dia pasrah-pasrah aja waktu dipakein sama temennya. Gara-gara bajunya, tampangnya, gayanya, dan nggak ada berita sama cewek, dia suka dikatain homo.
Tapi tolong ya, dia cowok banget. Secara dia anak Wanadri. Anak alam tangguh nan macho gitulah. Dia straight. Yang suka sama dia juga banyak.
Gara-gara kebanyakan main PS, dia pake kacamata dari kelas 6 sd. Matanya minus 3. Di sini dia gue gambarin pake kacamata item aja soalnya leave the face to imagination aja lah hahaha naon.
And yes, as you can see, he’s a smoker. Not the heavy one, but still >:(
Dia pernah satu kali jadi model buat sebuah distro yang jual baju-baju unisex, diajakin sepupunya. Sepupunya (cewek) mirip banget sama dia, hampir kayak kembar. Mungkin karena ada faktor kalo ayah mereka berdua kembar sih ya. Entah dia yang cantik atau sepupunya yang ganteng. Bagus gitulah konsepnya 2 orang nyaris kembar berbeda gender pake baju sama yang dimodelin macem-macem.
Hm hm apa lagi ya.
Oh iya, sebenernya ini agak tabu sih, Windura ngelarang gue cerita. Tapi the hell amat, orang gue yang bikin. Dasar makhluk dua dimensi.
Jadi gini, walaupun dia keliatannya santai-santai aja diejekkin maho, sebenarnya dia agak sensitif juga sama pemakaian kata itu.
Windura ini dua bersaudara. Tadi di atas gue udah bilang, kakaknya yang belanjain baju. Kakaknya expert di bidang fashion. Kakak dalam artian brother. Yak tembak langsung, kakaknya gay. Dan udah 5 bulan ini ninggalin rumah sejak coming out ke orang tuanya. Ibunya stres tau anaknya gay, dia jadi sering menyalahkan dirinya sendiri. Yah gitulah ya. Ayahnya.. ayahnya kemana ya? Nggak taulah nggak pernah gue pikirin. Orang si ibunya aja cuma jadi figuran orang setres bahaha.
Cuma Windura yang masih keep in touch sama kakaknya. Walaupun sebenarnya dia marah, dan nggak akan pernah setuju kakaknya jadi gay. Windura nggak pernah mau ngedengerin cerita-cerita kakaknya yang sehubungan dengan dunia itu. But at the end of the day, they still brothers and he will always love him. Ya, kayaknya Windura emang family man deh.
Btw, kakaknya ini tampangnya cowok banget kebalikan dari Windura, dan pacaran sama artis. ….yang modelnya gue ambil dari Atalarik Syah BAHAHA.
Sebut saja, gue punya suatu ketertarikan sendiri sama dunia gay.
Bukan berarti gue gay, bukan berarti gue setuju sama gayness (?), gue cuma tertarik aja melihat dunia dari sudut pandang mereka. Tapi sekarang, berhubung faktor Glee sudah semakin pelangi dan faktor lainnya seperti browsing baca blog orang gay dll, ketertarikan itu sudah berubah jadi ‘yasudahlah terserah mereka, gue udah tau semuanya’. HAHAHA NGGAK DENG gue masih belom mengerti.
Dulu gue suka beli animonster. You know, majalah yang isinya Jepang-Jepangan itu, ada anime manga dan sebagainya. Berhubung orang-orang Jepang emang gila, pastinya ada tema percintaan sesama jenis lah. Kalo yang lesbi disebutnya yuri, yang homo disebutnya yaoi. Tapi mangsa pasar buat genre komik ini nggak ditujukan ke kaum gay aja, kaum straight juga banyak yang suka.
Gue udah pernah ngebaca beberapa komik yaoi. Biasa anak remaja lagi nggak ada kerjaan, jadinya menjelajah komik-komik online di berbagai website. Sebenarnya komik-komik ini aneh, karena dari yang gue lihat, kebanyakan pasangan homonya tuh cowok ganteng yang cowok banget vs cowok manis yang cute banget bahkan fiturnya kecewek-cewekan cuma dadanya rata aja. Maksud gue, kalo maunya sama cowok setengah cewek gitu bukan dalam artian bencong, sekalian aja sama cewek siiih.
Warning : Tulisan ini emang agak menclok-menclok.
You know Adam Lambert right?
Penyanyi luar biasa yang gay dan pernah ngasih pertunjukan super kontroversial di AMA dengan mencium bibir pemain bandnya yang juga lelaki. Ya teruus, sebut saja si C yang ngefans banget sama si Adam ini. Dia juga jago gambar. Daaan di Deviant Artnya banyak fan art yang dia bikin menggambarkan hubungan antara Adam dan si pemain band. Setelah itu gue juga tau ternyata fanbase Adam emang suka ngebayangin Adam dan si pemain band ini pacaran dan melakukan banyak hal tidak senonoh lainnya (HAHA).
Tau Supernatural juga kan?
Yang Dean and Sam. Si Dean ini juga suka digambarin homo sama Castiel. Padahal Dean itu playboy bad boy ganteng gitu, mana ada dia homo.
Udah gue pernah bahas sebelumnya, walaupun gue bukan makhluk bertelinga runcing, gue suka sama Super Junior. Memang gue nggak sering ngesearch mereka sih, tapi kalo kebetulan gue lagi search mereka di youtube, pasti deh adaa aja video yang nunjukin Heechul sama Siwon ciuman. Sialan lo cul! Mereka berdua emang bukan gay, tapi mereka sering (!!!!!!!) begitu buat ngasih fan service. Iya, banyak fans mereka yang ngebayangin adanya hubungan spesial antara anggota. Jadi dibikin gitu pasangannya apa sih lupa gue salah satunya Siwon-Kyuhyun syalala deh. Eh gila dunia entertainment korea lebih gila daripada hiliwut.
Contohnya masih banyak. Banget. Kayaknya. Haha soalnya yang gue sering liat mah cuma yang tiga di atas.
Intinya.
Gue bingung kenapa sih fans2 yang kebanyakan cewek ini suka ngebayangin idolanya (cowok) jadi gay?
Gue pernah nanya ke C kenapa dia suka potrays them as gay, and she said ‘Daripada sama cewek lain, kan kesel’
LAH DARIPADA SAMA COWOK LAIN? MENDING SAMA CEWEK LAIN JADI KAN ADA KEMUNGKINAN BUAT GUE JUGA.
.
Karena nonton (setengah-setengah sih, soalnya pas ada gue harus berangkat kuliah hiks) How To Date an Otaku Girl (eh tumben loh film jepang pemeran cowoknya ada yang gantengan dikit!), akhirnya gue tau istilah cewek-cewek penyuka cerita yaoi.
Mereka dipanggil Fujoshi.
.
.
Salam sharing aja,
Adlina Humaira
Kalo gue sendiri sih, gue bukan anak yang disebut eksis. Tapi gue juga nggak merasa diri gue sebagai anak yang tidak diketahui banyak orang. Yah, somewhere in between lah. Hahahaha.
Gue adalah si anak bayangan. Atau ubur-ubur. Atau si adventurer. Atau si yah gue nggak bisa mikir apa-apa lagi.
Mungkin kalian yang pernah sekampus atau satu sekolah sama gue bisa merhatiin, kalo gue kayak yang nggak punya temen (HAHA SEDIH). Karena lebih banyak sendiri dan nggak bareng sama yang itu-itu terus.
Gimana ya.
Gue bukan tipe orang yang merasa butuh untuk terikat sama satu kelompok tertentu. Gue bukan tipe orang yang pas pertama kali masuk sekolah bisa langsung nemu temen segeng. Gue emang nggak kayak gitu.
Gue orangnya nemplok-nemplok. Kadang ke kelompok ini, kadang ke kelompok itu, tanpa jadi bagian inti dari kelompok mereka. Parasit mungkin buat mereka, tapi hubungan komensalisme ajalah ya hahah (mong naoon).
Jadinya gue biasa mandiri aja. Gue nggak merasa perlu buat ngetag tempat (HAHAHAHA MASIIH AJA DIBAHAS), gue nggak merasa perlu untuk minta didaftarin praktikum biar barengan, gue nggak merasa perlu untuk jalan bareng setiap minggu sama teman. Naon.
Bukan berarti gue nggak pengen sih. Pengen tapi nggak merasa perlu.
Apakah gue yang seperti ini menyedihkan? Gatau sih. Kalo gue mah santai-santai aja. Kenapa hidup gue harus kayak orang lain deh.
Bahaya nggak sih kalo tulisan ini dipublish? Mungkin. Karena yang namanya dunia maya itu kejam bung, dan kemudian berpengaruh ke dunia nyata. Terus ngapain juga gue publish, harusnya simpen aja terus di draft sampe mati.
Biarinlah.
.
Adlina Humaira.
“Kalau sama mereka, gue merasa dimanfaatin.”
Memanfaatkan.
Buat gue, tidak ada pertemanan yang tidak saling memanfaatkan. Lo teman gue karena gue memanfaatkan lo. Gue pun jadi teman lo karena lo memanfaatkan gue.
Kebayang?
Pertemanan tanpa pemanfaatan itu tidak ada teman. Bahkan yang katanya persahabatan paling pure sedunia sejagat raya juga saling memanfaatkan. Cuma nggak sadar aja.
Memanfaatkan seperti apa? Gue memanfaatkan lo sebagai orang yang harus ada di samping gue, saat gue butuh lo. Begitu juga sebaliknya.
Kebayang?
Logikanya sama aja kayak kita yang menangisi diri kita sendiri ketika orang dekat kita meninggal.
Adlina Humaira.
Anonymous asked: pandangan kamu terhadap orang-orang yg hanya mau bermain dengan orang-orang famous ata eksis tuh gimana?
Hello anon, kamu anak nggak eksis yah?
HAHAHA NGGAK DENG BECANDA! yang nggak eksis gue kali.
Jujur loh gue butuh waktu cukup lama buat mikirin gimana caranya ngejawab pertanyaan ini dengan bahasa oke khas orang intelek. Biasalah, politik pencitraan huehuehue.
Kalo lo nanya ini waktu gue masih SMP, pasti jawaban gue adalah “mereka tuh sombong banget berasa oke mainnya milih-milih! and bla and bla and the bla bla bla”
Sebenarnya pandangan gue nggak banyak berubah. (woy!)
Tapi gue mikir-mikir lagi.
‘Hanya mau bermain’ di sini definisinya gimana sih?
Apakah si orang-orang eksis ini benar-benar tersilaukan dengan keeksisan mereka sendiri sampe nggak mau kenal sama sekali sama orang-orang yang mereka kira kurang eksis?
Kalau begitu ceritanya, berarti mereka orang merugi. Karena hanya kenal orang-orang dari satu golongan.
Kalo beda cerita, mari kita asumsikan kalo anak-anak eksis seringnya hang out di tempat anak eksis (ini apa deh). Dan anak kurang eksis ada di tempatnya masing-masing.
Here’s the thing ya, you can’t be friends with everyone.
Akan susah untuk menjadikan semua orang sebagai teman lo.
Ada yang aslinya emang ramah ke semua orang, tapi ada juga yang lebih memilih mengekslusifkan dirinya dengan kelompok kecilnya. Hal ini nggak berlaku buat anak eksis aja, buat anak nggak eksis juga.
Gue liat di sini lo menempatkan diri lo sebagai anak kurang eksis yang melihat bahwa anak eksis mengekslusifkan diri. Asumsi gue aja loh ya. Gini loh, coba kalo posisinya di balik. Apakah si geng anak kurang eksis udah mencoba untuk berteman sama anak-anak eksis?
Mengekslusifkan diri karena merasa mereka eklusif.
Pada akhirnya, setiap orang akan kembali ke tempat di mana mereka merasa nyaman dan berpandangan sama dengan orang-orang di dalamnya.
Dan, kita semua eksis. Sebenarnya nggak ada tuh pembagian anak eksis dan anak nggak eksis. Karena kita semua eksis dengan cara kita masing-masing, right?
Eh gue di sini berperan sebagai orang sok tau aja. Mangga kalo mau nanya lagi atau ada sanggahan mungkin? #berasapresentasi
Hello.
Kalau hari ini kemarin, pasti post ini udah dipenuhi sama kata-kata emosional dan kurang ajar. Kayaknya emang dikasih tau sama Allah buat nggak cari-cari perhatian berlebihan di dunia maya. Kadang ada hikmahnya juga yah internet mati pas lagi pengen mencurahkan isi hati. Alhamdulillah yah sesuatu banget.
Jadi, sebenernya kemaren ada apa?
Kemaren gue kesel.
Kesel banget.
Keseeel!
Gue ditilang.
Cikiciws.
Katanya sih gue ngelanggar lampu merah syalala tapi gue ngerasa nggak salah gara-gara lupa ngelanggar atau nggak, beneran cuma ngikutin mobil depan yang ikutan ditilang hahahaha.
Tadinya gue kira gue diberhentiin buat razia biasa doang, eh tiba-tiba disuruh turun terus dibilang ngelanggar harus bayar denda minimal 500rb si polisi jelek sok-sokan pake ngeliatin undang-undang lagi cih.
Awalnya gue sok-sokan minta slip biru, tapi sialnya gue lupa itu buat apa dan harus gimana HAHA FAIL jadi si polisinya nakut-nakutin gitu dan gue bingung mau jawab apa. Dia bilang pengadilan syalala kalo pake slip biru udah nggak kerja sama sama bank syalala gue jawab kok nggak ada pemberitahuan besarnya sih syalala dia jawab ya tapi itu kan syalala. Ah dasar polisi sampah.
Gue juga masih nggak ngerasa salah, dan males bayar denda. Apalagi pengadilan. Dateng pun cuma dianggurin. Gue ulur-ulur aja waktunya. Pas itu gue liat ada mobil banyakan lewat, tapi yang ditilang cuma satu. Padahal logikanya yang barengan itu sama-sama salah kan. Nah pas gue tanya kenapa, si polisi tanpa ngeliat kejadian cuma bilang
“Ya kan yang ngelanggar yang itu”
“Saya disini menuntut keadilan pak, kenapa yang lain nggak ditilang juga?”
“Ya kan syalala”
Ah terserah.
Terus akhirnya dia nawarin ngebantu.
Frontal aja sih.
“Jadi saya harus bayar berapa pak?”
“Yah tadi kan saya sudah bilang, bayar setengah di sini, nanti berkas lalala”
“Jadi berapa pak?”
“Sudah saya jelasin dari tadi..”
“Tapi bapak nggak menyebutkan nominal!”
“Yah 50rb..”
Long story short akhirnya dia mau gue bayar 20rb gara-gara gue ngakunya gue nggak punya uang dan keluarga gue lagi resesi (tadinya gue juga udah mau ngarang cerita kalo mobil gue sebenernya mau dijual dan ayah gue lagi sibuk nyari kerjaan susah hiks. Dan ade-ade gue yg di mobil nungguin rencananya lebih sinetron lagi, mau teriak: “Kak cepetan kita harus ke rumah sakit! Nenek kepleset di kamar mandi!” HAHA FAIL.) ditambah ada lagi yang ditilang dan ngantri nungguin gue.
Padahal waktu itu saya lagi naro 500rb di dompet loh pak. Hahahaha.
Gue nggak suka bohong. Tapi gue nggak merasa bersalah bohong sama dia. Peduli amat, kita sama-sama dosa lah ya pak di sini.
Hem.
Sampah emang.
.
.
Aku sih daripada bayar polisi mending ke pengadilan sekalian!
Mana kata-kata lo waktu itu Del?
Sampah lo, telan terus idealisme masa muda seiring bertambahnya usia digerogoti realita.
.
Adlina.
“Kamu tuh ya udah kayak gini dari dulu! Pas kita masih tk, kan kita ke pantai. Terus aku cuma pake kaos dalem sama celana dalem doang kan, tapi kamu pake celana pendek. Terus kan aku bilang, ‘kamu ngapain pake celana pendek? lepas aja’, tapi kamu jawab, ‘nggak ah, malu.’ Aku jadi mikir, ya ampun kita masih tk gitu, ngapain sih malu-malu amat! Udah realistis dari tk kamu tuh!”
Kejadian lain.
“Kok nggak sebagus yang tadi ya.”
“Ya soalnya emang kejadian yang sama nggak akan kejadian 2 kali.”
“Aku inget banget kamu ngomong hal yang sama persis pas kelas 6 sd!”
“Hah? Kelas 6 sd aku udah ngomong itu? Kok inget sih?”
“Nggak tau lah pokoknya aku inget. Soalnya aku jadi mikir, kamu ngomong kayak begitu karena kamu yang kebanyakan mikir atau aku yang nggak pernah mikir.”
(Nggak kok al, kadang-kadang hal yang lo pikirin nggak ada di pikiran gue sama sekali haha)
Kejadian lain.
Baca post gue sebelumnya, tapi ada komen tambahan dari Bd Ta ke ibuku:
“Anak ini kayaknya besarnya akan jadi akuntan atau berkutat di bagian keuangan deh, rumah aku juga ditanyain harganya berapa dan udah lunas atau belumnya hahahaha.”
Kejadian lain.
“Adlina emang begitu, dari kecil udah realistis dan nanyanya banyak banget.”
Hehe.
Tiga hal di atas gue campur-campur lagi di otak selama perjalanan 20 jam pulang dari madiun.
Kesimpulannya sifat-sifat kita yang terlihat waktu kecil itu sifat dasar kita. Dan sifat kita yang sekarang itu tambahan (dan pengurangan) dari perjalanan kita selama berkembang.
Terus, gue mikir-mikir lagi.
Seberapa banyak gue telah berubah?
Gue tetap realistis, belakangan cenderung dingin. Hahahaha. Tapi gue yang banyak nanya itu udah menghilang, lebih ke menerima yang ada, kritis kalo lagi pengen. Gue yang banyak mikir juga syuu entah kemana, belakangan males mikir pengennya santai.
Terus post ini tujuannya apa?
Nggak ada. Sharing aja.
Dadah.
“Kak, ayo sholat,”
“Males ah, nanti aja”
“Jangan begitu, sholat harus disegerakan. Asal kamu tau, godaan akan semakin besar seiring kamu tumbuh.”
Waktu itu aku merasa omongan Ibu cuma sekedar angin lalu. Tenang sajalah bu, aku tidak akan seperti itu.
Dan seperti biasa, aku salah dan Ibu selalu benar.
Misalnya, dulu setelah sholat maghrib tepat pada waktunya, aku akan mengaji menunggu adzan isya dan segera sholat. Sekarang? Mengaji? Yakali. Sholat tepat waktu? Maaf, aku terlalu sibuk.
Dulu, ketika aku meninggalkan sholat, aku akan menangis, mengingat api neraka yang akan menggerogoti tubuhku sampai habis. Sekarang? Maaf, aku ketiduran.
Dulu, aku hafal Juz Amma. Sekarang? Hemm hanya surat-surat pendek dan sebagian ayat yang tertinggal dalam ingatan.
Dulu, rasanya ketika Ramadhan datang, aku senang sekali. Bulan ini ada untukku memperbaiki ibadahku dan menghapus dosa-dosaku! Sekarang? Aduh semoga nanti aku tidak perlu bayar puasa banyak-banyak.
Dulu di bulan Ramadhan, aku akan setia menonton acara ceramah menjelang berbuka. Memang sih, tujuan utamanya untuk mengerjakan tugas agama. Tapi itu lebih baik karena pada akhirnya aku belajar mendekatkan diri padaNya, bukan seperti sekarang, mendekatkan diri pada kehidupan barat.
Dulu, tidak ada acara berbuka bersama teman, sekarang, kegiatan Ramadhanku dipenuhi dengan itu. Dampaknya, sholat tarawih ditinggalkan. Ah sunnah ini.
Dulu tidak akan pernah terbesit untukku mempertanyakan ajaran agamaku. Sekarang? Kenapa begini? Kenapa begitu? Perlukah kita beragama? Apakah Tuhan benar adanya?
Ya Allah.
Astaghfirullah.
Astaghfirullah.
Astaghfirullah.
Dan pada akhirnya, hal yang paling aku takutkan adalah ketika Islam dihilangkan Allah dariku.
.
.
Adlina -semoga masih pantas menyandang nama- Humaira
Salah satu parameter bahwa lo sudah dewasa adalah ketika imajinasi lo terbatasi akibat regulasi dan asumsi.– Saya
Bisa dibilang, aku adalah orang yang suka mengejek orang-orang yang menyukai sesuatu yang di luar kebiasaan, di luar standarku sebagai penggemar Hollywood, mereka para pecinta Korea.
Hiburan Korea buatku sebagai seorang skeptik, sangat aneh. Gimana ya, aneh aja. Aneh banget wei (HAHA udah capek pake bahasa formal)
Cowok-cowoknya terlalu manis dan kecil, bukan selera gue. Cewek-ceweknya berasa cewek paling imut di dunia, terlihat bermuka bodoh di mata gue. Dramanya terlalu sweet dan unreal, bikin gusar sendiri kalo nonton.
Ah pokoknya nggak suka lah. Apalagi ada juga kan anggapan kalo mereka yang suka sesuatu berbau Korea itu orang freak. Haha dasar freak.
>
Kemudian tibalah saatnya buat gue ngurusin ospek jurusan. Urgensi dan masalah (azeg) bikin gue suka nongkrong di RKMB buat rapat dan nyelesein buklet Pengaderan. Sering kali kita merasa jenuh dan butuh hiburan. Terima kasih untuk beberapa teman yang tidak usah disebut namanya, hiburan itu adalah : menonton video KPop via youtube.
Bikin buklet itu lama.
Hampir setiap hari selama seminggu lebih kita begitu. Iya begitu.
Langsung ajalah ya.
GUE KERACUNAN KPOP.
Gue mulai menyelami lagu-lagu dan video beberapa boyband dan girlband.
Bahkan gue sampai pada poin di mana gue mengulang video-video tertentu setiap hari. Sebut saja, No Other by Super Junior.
In my defense, gue masih tetep nggak begitu suka girlband dengan konsep imut. Baru satu video girlband yang gue suka : SNSD - Run Devil Run. Begitu juga dengan drama Korea, sampai saat ini gue menentang menontonnya hahaha tapi gatau deh gimana nanti.
Soal boyband.. pada dasarnya gue emang suka boyband. Tapi selera gue emang bukan mas-mas oriental yang kurus. Makanya, dari dulu juga gue cuma tau satu orang Korea yang ganteng : Siwon. Nah, Siwon kan masuk Super Junior tuh. Dan kayaknya mereka meledak banget. Jadi yaa… beberapa lagu hitsnya aku taulah. Beberapa membernya juga. Dancenya juga aku suka.Yes. Boyband lain paling Big Bang. Itu juga cuma tau 2 lagu.
Terus, gue jauuh lebih suka ngeliat Fashion for Men daripada Fashion for Women. Makanya, boyband Korea buat gue tuh surga. Mereka itu super stylish dan (ntah kenapa) cocok mau digimanain aja. Yah kayaknya sekarang-sekarang, kalo gue gambar cowok, referensi bajunya akan berdasarkan yang mereka pakai hehehehe.
>
Pada akhirnya, gue belajar. Belajar untuk tidak mengkotak-kotakkan orang dari apa yang mereka sukai. Begini loh, kita tidak lebih baik atau buruk, kita hanya berbeda.
Seperti balasan seseorang atas comment “Ih alay” gue tentang Cherrybelle (tapi ya emang nggak-sebagus-girlband-yang-mereka-contoh!) :
Kalo suka Korea itu alay, mending jadi alay deh daripada jadi bagian dari orang-orang ngebosenin yang cuma berani “main aman” dengan suka hal-hal yang sama terus.
>
No labeling or stereotyping sih intinya.
>
Annyeong,
Siwon-bride-to-be. HAHAHA ANZES ZIZIG.
Ganti deh.
Adlina.

Entahlah bukannya aku tidak bersyukur. Aku cukup bahagia dengan kehidupanku yang sekarang. Tapi bukan ini yang kuinginkan.
Orang bilang, apa yang kamu butuhkan tidak sama dengan yang kamu inginkan. Aku setuju. Tapi aku butuh memenuhi keinginan itu.
Keinginanku bukan sesuatu yang bersifat material dan perlu dijurnal. Bukan itu.
Aku ingin menemukan diriku. Aku ingin menemukan alasan mengapa aku ada. Yayaya, untuk menyembah-Nya, aku tahu. Tapi bukan itu maksudku. Sesuatu yang membuatku sadar, aku hidup untuk menjalani itu.
Kamu mengerti?
Aku bingung. Mengapa sepertinya dengan mudah orang-orang yang aku temui sangat memahami jati dirinya. Tidak seperti aku. Ada kalanya aku merasa ‘aku seperti ini’ ‘oh bukan, aku seperti itu’. Entah yang mana yang benar. Pada akhirnya yang aku lakukan adalah menempeli diri sendiri dengan label tertentu.
Atau jangan-jangan, aku takut. Takut akan diriku. Takut mengakui diriku. Takut akan tanggapan orang-orang tentangku. Takut menyadari bahwa itulah aku.
Kamu mengerti?
Ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang aku inginkan. Tapi hal itu tergambar tidak jelas di benakku sebelum aku tahu siapa diriku.
.
I always love young dads!
This is Aufa, 31, with his three little children.
She’s 6, the boy with the lollipop is 4, and the youngest (that creepy hand in the baby stroller) is nearly 1.
It was Sunday so he took the kids to go for a walk and sight seeing :). But then he got a call from his client (he’s an architect) that wanted a meeting immediately. This picture taken (or in this case, drawn) when he was negotiating with the client.
Just FYI, you see the woman in the poster behind him? That’s his ex back in high school. The name’s Aira.
I rarely draw backgrounds, so this is like super zzzz. Yea whatever.
Jadi antagonis aja hidup gue flat, apalagi jadi protagonis?